Bicaraindonesia.id, Surabaya – Pemerintah mulai menerapkan biodiesel B50 di Indonesia pada 1 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, implementasi bahan bakar dengan campuran 50 persen biodiesel tersebut dinilai memerlukan kesiapan teknis agar tidak berdampak pada performa dan keandalan mesin.
Guru Besar Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Bambang Sudarmanta menjelaskan, karakteristik biodiesel berbeda dengan diesel fosil sehingga memengaruhi sifat fisik, kimia, hingga proses pembakaran di dalam mesin.
“Hal seperti itu yang secara langsung mempengaruhi performa, keandalan, dan umur sistem mesin,” jelas Bambang dalam rilis tertulisnya dikutip pada Rabu (1/7/2026).
Menurut Bambang, implementasi B50 tidak cukup hanya didasarkan pada kebijakan pemerintah. Penerapannya juga harus disertai pendekatan berbasis rekayasa mesin (engineering-driven approach) yang komprehensif.
Ia menjelaskan, biodiesel memiliki densitas dan viskositas yang lebih tinggi dibandingkan diesel fosil. Densitas yang lebih tinggi menyebabkan massa bahan bakar yang terinjeksi pada sistem berbasis volumetrik meningkat sehingga berpotensi memicu over-fueling dan mengubah karakter pembakaran.
Di sisi lain, viskositas yang lebih tinggi membuat proses atomisasi bahan bakar menjadi kurang optimal.
“Hal itu akan menghasilkan ukuran droplet yang lebih besar dan penyebaran partikel tidak homogen,” terang ahli teknik pembakaran dan bahan bakar tersebut.
Kondisi tersebut, kata Bambang, dapat menurunkan kualitas pencampuran bahan bakar dengan udara, memperlambat proses evaporasi, serta meningkatkan kecenderungan terbentuknya rich mixture yang menjadi sumber pembentukan deposit dan emisi partikulat.
Selain itu, Bambang menyoroti sifat higroskopis biodiesel yang mudah menyerap air selama proses penyimpanan maupun distribusi. Kandungan air dalam bahan bakar tidak hanya menurunkan kualitas pembakaran, tetapi juga menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur.
Menurutnya, mikroorganisme tersebut berkembang pada antarmuka antara air dan bahan bakar sehingga menghasilkan biofilm serta senyawa asam yang dapat menyebabkan korosi, penyumbatan filter, dan penurunan kualitas bahan bakar.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mengakibatkan kegagalan sistem bahan bakar, terutama pada injektor dan pompa bertekanan tinggi.
Karena itu, Bambang menilai pengendalian kadar air melalui sistem penyimpanan tertutup, penggunaan water separator, serta pemantauan kadar air menjadi langkah yang wajib dilakukan.
Ia juga menjelaskan kandungan methyl ester jenuh dalam biodiesel, seperti palmitat dan stearat, dapat memicu terbentuknya kristal pada suhu rendah.
“Kondisi seperti itu dapat menyumbat filter bahan bakar serta mengganggu kinerja mesin secara sistemik,” paparnya.
Fenomena cold flow properties tersebut, menurut Bambang, menjadi salah satu tantangan utama implementasi B50 karena dapat menurunkan efisiensi pembakaran hingga menyebabkan mesin sulit dihidupkan.
“Maka, penggunaan cold flow improver, sistem pemanas bahan bakar, dan penyesuaian desain distribusi menjadi langkah krusial untuk mengatasi kendala operasional tersebut,” ungkap Bambang.
Bambang menjelaskan bahwa implementasi biodiesel B50 juga menghadapi tantangan akibat karakteristik kimia bahan bakar, terutama kerentanan terhadap oksidasi serta risiko kontaminasi gliserin dan logam yang dapat membentuk deposit pada komponen mesin.
Selain itu, karakteristik pembakaran biodiesel yang berbeda dari diesel fosil turut memengaruhi efisiensi atomisasi dan distribusi panas. Apabila tidak dikelola dengan tepat, kondisi tersebut berpotensi menurunkan kinerja mesin sekaligus meningkatkan emisi.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Bambang menilai diperlukan strategi mitigasi yang terintegrasi melalui pengendalian kualitas bahan bakar secara ketat, penggunaan aditif, serta penyesuaian parameter teknis pada sistem injeksi dan ruang bakar.
Langkah tersebut bertujuan meminimalkan risiko injector fouling dan nozzle coking, sekaligus memastikan mesin mampu beradaptasi terhadap perubahan sifat fisik dan kimia biodiesel.
Selain itu, penerapan sistem pemantauan berbasis sensor dan teknologi digital twin dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung metode predictive maintenance yang lebih efisien.
Dengan menggabungkan rekayasa bahan bakar, optimalisasi desain mesin, serta sistem pengawasan berbasis digital, implementasi biodiesel B50 diharapkan dapat berjalan lebih andal dan mendukung keberlanjutan sistem energi nasional. (*/Hum/B1)

Tinggalkan Balasan