Bicaraindonesia.id, Surabaya – Keberadaan puluhan jenis burung, kupu-kupu, kucing bakau, hingga kepiting pemanjat pohon menjadi indikator ekosistem di Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya masih terjaga.
Kawasan konservasi yang dikelola Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya itu tidak hanya berfungsi sebagai pusat koleksi mangrove, tetapi juga menjadi habitat beragam satwa liar.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun Raya Mangrove Surabaya, Dian Prasetyaningtyas mengatakan, saat ini KRM Surabaya memiliki 74 spesies mangrove dari sekitar 245 spesies mangrove yang ada di Indonesia.
“Kurang lebih hampir 30 persen, dan relatif memang untuk jenis spesiesnya yang paling banyak di antara area mangrove yang lain,” ujar Dian, Jumat (26/6/2026).
Menurut Dian, Kebun Raya Mangrove Surabaya merupakan satu-satunya kebun raya bertema mangrove di Indonesia. Berbeda dengan kawasan mangrove lain yang masih berstatus hutan mangrove, kawasan di Surabaya telah memenuhi fungsi sebagai kebun raya.
“Kalau yang lain-lain di Indonesia kita ada 48 kebun raya, tetapi sifatnya tidak tematik. Untuk yang mangrove itu Surabaya satu-satunya,” katanya.
Penggabungan UPTD Kebun Raya Mangrove dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Surabaya juga memperkuat pengembangan kawasan tersebut sebagai pusat riset mangrove. Pemkot Surabaya menargetkan KRM menjadi laboratorium mangrove bertaraf dunia.
“Targetnya adalah bagaimana kita menjadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai laboratorium mangrove yang ada di dunia. Harapannya, paling tidak 245 spesies mangrove yang ada di Indonesia bisa kita miliki di Kebun Raya Mangrove,” ujarnya.
Tak hanya kaya vegetasi, kawasan ini juga menjadi rumah bagi berbagai satwa liar. Sedikitnya terdapat sekitar 35 jenis burung yang singgah maupun menetap di kawasan tersebut.
“Burung itu kita ada kurang lebih sekitar 35 jenis, baik itu singgah ataupun hidup di area Kebun Raya Mangrove Surabaya,” paparnya.
Selain burung, Kebun Raya Mangrove Surabaya juga menjadi habitat berbagai jenis kupu-kupu. Bahkan, keberadaan kucing bakau pernah ditemukan berdasarkan hasil penelitian dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
“Beberapa waktu lalu ada pencinta kupu-kupu datang ke Kebun Raya Mangrove, ternyata cukup banyak ragam kupu-kupu yang ada di Kebun Raya Mangrove,” tuturnya.
Dian menyebut penemuan kucing bakau menjadi salah satu indikator penting bahwa kondisi ekosistem mangrove di kawasan tersebut masih terjaga. Satwa liar itu diketahui tidak dapat dikembangbiakkan dalam penangkaran.
“Berdasarkan penelitian dosen Unesa pernah ditemukan kucing bakau. Dulu kita sempat ingin memperbanyak untuk menyelamatkan kelangkaannya, tetapi ternyata tidak bisa karena hidupnya memang liar,” katanya.
Ia menegaskan, keberadaan kucing bakau tidak banyak ditemukan di kawasan lain sehingga menjadi penanda kualitas habitat mangrove yang masih baik.
“Tidak banyak tempat ditemukan ada kucing bakau. Itu menunjukkan kalau ekosistemnya terjaga dengan baik dengan adanya keberadaan kucing bakau itu sendiri,” sebutnya.
Selain itu, kawasan KRM Surabaya juga menjadi habitat kepiting pemanjat pohon, yakni jenis kepiting bakau yang tidak dapat dikonsumsi karena mengandung zat beracun. Sementara itu, untuk satwa reptil, kawasan Gunung Anyar hanya dihuni biawak.
“Kalau buaya memang sempat ditemui di Avour Wonorejo. Tapi kalau di area (KRM) Gunung Anyar tidak ditemukan, adanya biawak,” ungkapnya.
Saat ini UPTD Kebun Raya Mangrove Surabaya mengelola dua kawasan, yakni Gunung Anyar-Medokan Sawah dan Wonorejo, dengan total luas sekitar 34 hektare. (*/Pr/C1)

Tinggalkan Balasan