Bicaraindonesia.id, Kenya – Indonesia berpeluang memperoleh dukungan pendanaan internasional hingga USD 260 juta untuk memperkuat perlindungan ekosistem laut setelah menyampaikan empat komitmen baru dalam konferensi Our Ocean Conference (OOC) ke-11 di Mombasa, Kenya, pada 17-19 Juni 2026.
Komitmen tersebut disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono sebagai bagian dari upaya Indonesia memperkuat tata kelola laut berkelanjutan di tingkat regional maupun global.
Pendanaan internasional tersebut akan diarahkan untuk mendukung konservasi terumbu karang, restorasi ekosistem laut, serta pengembangan Ocean Centres melalui berbagai skema kerja sama.
“Empat komitmen yang kami sampaikan hari ini menegaskan langkah konkret Indonesia dalam memperkuat pengelolaan ruang laut, memperluas dan meningkatkan efektivitas kawasan konservasi, serta mengembangkan solusi berbasis alam seperti karbon biru untuk mitigasi perubahan iklim,” ujar Menteri Trenggono dalam siaran tertulisnya di Jakarta dikutip pada Jumat (26/6/2026).
Komitmen pertama yang disampaikan pemerintah mencakup penguatan tata kelola ruang laut melalui integrasi perencanaan tata ruang darat dan laut ke dalam tata ruang nasional maupun provinsi.
Selain itu, pemerintah juga akan menyusun regulasi zonasi lintas wilayah serta memasukkan kawasan strategis nasional karbon biru ke dalam perencanaan tata ruang nasional.
Pada komitmen kedua, Indonesia menargetkan penetapan kawasan konservasi laut baru seluas 700.000 hektare sepanjang 2026 sebagai bagian dari strategi memperluas kawasan perlindungan laut nasional.
“Ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem laut, serta mencapai target perluasan kawasan konservasi laut mencapai 30% dari total luas perairan nasional pada tahun 2045,” ungkapnya.
Selain memperluas kawasan konservasi, pemerintah juga akan mengevaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi laut yang telah ditetapkan seluas 19,10 juta hektare.
Langkah tersebut dilakukan agar manfaat konservasi dapat dirasakan secara optimal, baik bagi kelestarian lingkungan maupun masyarakat pesisir.
Sementara itu, komitmen keempat adalah mengembangkan satu model proyek karbon biru sebagai proyek percontohan yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia pada masa mendatang.
“Kami percaya bahwa tantangan laut bersifat lintas batas, sehingga membutuhkan kolaborasi global yang kuat. Indonesia siap memperdalam kemitraan dengan negara sahabat, organisasi internasional, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat aksi nyata, dari komitmen menuju implementasi, demi menjaga laut tetap sehat dan produktif bagi generasi sekarang dan mendatang,” pungkas Trenggono.
Indonesia sendiri telah berpartisipasi dalam Our Ocean Conference sejak 2016. Pada 2018, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan OOC ke-5 dan menyampaikan 23 komitmen konkret senilai sekitar USD 500 juta untuk mendukung perlindungan laut.
Selama sembilan tahun mengikuti forum tersebut, KKP telah menyampaikan total 73 komitmen yang berfokus pada upaya menjaga kesehatan laut. Berbagai komitmen tersebut menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam mendukung penyelesaian persoalan kelautan di tingkat global.
“Melalui komitmen-komitmen yang konkret dan terukur, Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi berbasis kelautan dapat berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat pesisir, sejalan dengan semangat SDG 14 untuk memastikan laut tetap lestari bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (*/Sp/A1)

Tinggalkan Balasan