Bicaraindonesia.id, Surabaya – Pengurus Provinsi (Pengprov) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jawa Timur mulai menyiapkan langkah baru menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028 di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, IPSI membangun sistem pembinaan terintegrasi dengan standar latihan yang seragam bagi atlet dan pelatih di seluruh daerah.
Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat fondasi pembinaan sekaligus mendukung target perolehan empat medali emas pada PON 2028. Fokus pembinaan tidak hanya diarahkan pada pencarian atlet berbakat, tetapi juga pada penerapan sistem yang terukur dan berkesinambungan dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi.
Ketua Umum KONI Jawa Timur, M. Nabil, mengatakan rekrutmen atlet menuju PON akan dilakukan melalui empat jalur, yakni rekomendasi Pengprov IPSI, KONI kabupaten/kota, hasil Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), serta jalur individu yang memiliki prestasi menonjol.
Menurutnya, peluang menjadi atlet binaan terbuka bagi seluruh pesilat berprestasi yang mampu memenuhi kriteria seleksi yang telah ditentukan.
“Kami membina atlet yang berprestasi. Sementara yang belum berprestasi akan terus dibina oleh Pengprov. Nantinya akan ada sistem promosi dan degradasi sehingga persaingan tetap hidup dan prestasi terus meningkat,” ujar M Nabil saat ditemui dalam kegiatan IPSI Jatim, Minggu (21/6/2026).
Nabil menilai Jawa Timur memiliki modal kuat untuk kembali bersaing di level nasional karena aktivitas kompetisi pencak silat berlangsung rutin di berbagai daerah. Kejuaraan-kejuaraan tersebut menjadi sarana penting dalam menjaring dan mengembangkan atlet potensial.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya penerapan standar latihan yang sama di seluruh daerah agar kualitas atlet dapat diukur menggunakan parameter yang seragam.
“Yang paling penting adalah standarisasi program dan standarisasi latihan untuk pelatih. Jangan sampai setiap daerah berjalan dengan metode sendiri-sendiri. Harus ada penyeragaman pola latihan sehingga evaluasi dan peningkatan prestasi lebih mudah dilakukan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengprov IPSI Jatim, Bambang Haryo Soekartono, mengungkapkan pihaknya telah mulai mengumpulkan atlet, pelatih, dan pengurus cabang IPSI dari seluruh kabupaten/kota untuk menyusun peta jalan menuju PON 2028.
Sebanyak 40 atlet telah masuk dalam program pembinaan awal. Mereka berasal dari hasil Kejuaraan Provinsi Piala BHS, atlet yang saat ini berada di Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Jawa Timur, serta sejumlah atlet potensial lainnya yang diproyeksikan memperkuat tim pencak silat Jatim.
“Seluruh atlet ini akan disatukan terlebih dahulu untuk mendapatkan standarisasi yang sama, baik dari sisi fisik, teknik maupun mental. Kami ingin seluruh daerah memiliki acuan pembinaan yang identik dengan standar provinsi,” kata Bambang.
Menurutnya, penyamaan standar pembinaan menjadi langkah penting untuk mengurangi perbedaan kualitas latihan antar daerah. Dengan sistem yang seragam, proses evaluasi dan peningkatan kemampuan atlet diharapkan dapat berjalan lebih efektif.
Untuk mendukung proses seleksi, IPSI Jatim juga menyiapkan sejumlah kejuaraan berjenjang. Dua agenda utama yang akan digelar pada semester kedua 2026 adalah Piala Gubernur Jawa Timur dan Piala Kapolda Jawa Timur.
Kedua ajang tersebut akan dimanfaatkan sebagai sarana penjaringan atlet potensial sekaligus mengukur perkembangan pesilat yang telah masuk program pembinaan.
Atlet terbaik dari hasil kompetisi akan mengikuti seleksi daerah sebelum diproyeksikan masuk Puslatda sebagai persiapan menghadapi Pra-PON 2027 dan PON 2028.
Selain memperkuat pembinaan atlet, IPSI Jatim juga menyiapkan program peningkatan kualitas pelatih serta agenda try out guna mempercepat pencapaian target prestasi.
“Kami ditarget empat medali emas. Insyaallah target minimal itu bisa kami capai. Karena itu semua persiapan harus dilakukan sejak sekarang, mulai dari standarisasi, seleksi, hingga try out,” pungkas Bambang. (*/Dap/C1)

Tinggalkan Balasan