Bicaraindonesia.id, Surabaya – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya menerjunkan sekitar 1.980 petugas dan pengawas untuk mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Pendataan ini menargetkan seluruh skala usaha di Kota Pahlawan.
Kepala BPS Kota Surabaya, Arrief Chandra Setiawan, mengatakan sensus ekonomi tahun ini menyasar sekitar 1.402 usaha besar dengan omzet di atas Rp50 miliar, sekitar 13.000 usaha menengah, serta kurang lebih 490.000 UMKM.
“Kita akan mendata sebanyak 1.402 usaha besar yang memiliki omzet sekitar Rp50 miliar ke atas, dan sekitar 13.000 usaha menengah, serta kurang lebih 490.000 itu UMKM yang kecil,” kata Arrief di Rumah Dinas Wali Kota Jalan Sedap Malam Surabaya, Rabu (17/6/2026).
Menurut Arrief, pendataan telah dimulai sejak 1 Mei 2026. Sementara metode door to door berlangsung mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.
Hingga pertengahan Juni 2026, BPS mencatat pendataan terhadap usaha besar telah menjangkau sekitar 800 perusahaan, termasuk sektor perbankan dan berbagai perusahaan besar lainnya. Sedangkan dalam dua hari pertama pelaksanaan pendataan door to door, petugas telah mendata sekitar 8.000 usaha.
“Kalau usaha besar itu sekitar kurang lebih sudah 800-an, perbankan dan usaha-usaha besar. Karena kalau yang door to door baru tadi pagi saya cek dua hari ini kurang lebih 8.000 usaha,” ungkap Arrief.
Arrief mengakui masih terdapat tantangan di lapangan, terutama terkait kejenuhan sebagian responden yang merasa terlalu sering didata. Namun, ia optimistis target sensus dapat tercapai melalui pendekatan persuasif dan dukungan Pemerintah Kota Surabaya.
“Ada beberapa rumah yang istilahnya mungkin agak menolak karena respondent burden. Respondent burden itu bosan, karena kok didata terus, tetapi alhamdulillah dengan pendekatan-pendekatan dan bantuan dari pemkot, Insyaallah nanti kita akan bisa mendapatkan datanya masing-masing,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi turut menjadi salah satu responden dalam pendataan yang dilakukan BPS. Tiga petugas sensus mendatangi langsung rumah dinas wali kota di Jalan Sedap Malam Surabaya pada Rabu (17/6/2026).
Eri mengatakan sensus ekonomi merupakan bagian dari upaya pemerintah memperoleh gambaran kondisi ekonomi masyarakat secara lebih akurat. Pendataan dilakukan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat dan menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
“Jadi, (petugas sensus) menanyakan apa yang ada di dalam rumah, salah satu contohnya,” kata Eri.
Menurutnya, hasil sensus akan memberikan gambaran tingkat perekonomian setiap rumah tangga, termasuk klasifikasi dalam kelompok desil yang menjadi dasar berbagai program pemerintah.
“Jadi ini menunjukkan hasil sensus ekonomi ini adalah tingkat perekonomian dari setiap rumah, apakah masuk dalam desil, mungkin bisa nanti dijadikan desil 1, 2, 3, 4, 5 atau 6,” ujarnya.
Eri juga mengapresiasi langkah BPS yang telah melakukan pendataan terhadap dirinya dan keluarganya. Ia mengajak masyarakat Surabaya untuk menerima petugas sensus dan memberikan informasi yang dibutuhkan agar data sosial ekonomi selalu diperbarui.
“Matur nuwun (terima kasih) kepada BPS yang sudah melakukan sensus ekonomi kepada saya pribadi, keluarga saya,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa pembaruan data secara berkala penting untuk memastikan penyaluran bantuan pemerintah berjalan tepat sasaran dan semakin transparan.
“Updating data itu memang harus dilakukan beberapa kali, agar memastikan ketika yang menerima bantuan itu adalah tepat sasaran,” katanya.
Eri pun meminta warga Surabaya untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. “Agar ekonomi Kota Surabaya bisa tahu pergerakannya berapa, dan siapa yang berhak menerima bantuan juga semakin transparan,” tandasnya. (*/Pr/C1)

Tinggalkan Balasan