Bicaraindonesia.id, Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui tim peneliti Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan (FTK), mengembangkan inovasi kapal pembersih sampah tanpa awak sebagai solusi penanganan sampah laut dan pencemaran mikroplastik di wilayah pesisir.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Dosen Departemen Teknik Perkapalan FTK ITS, Hasanudin, bersama tim penelitiannya. Kapal pembersih sampah tanpa awak itu resmi diluncurkan di Amphitheatre InfinITS, Kamis (11/6/2026).

Rektor ITS Prof Bambang Pramujati mengatakan persoalan sampah harus menjadi perhatian seluruh pihak, termasuk kalangan akademisi dan peneliti. Menurutnya, inovasi tersebut merupakan bentuk penerapan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Jadi ini teknologinya sederhana tapi insya Allah manfaatnya besar, sehingga itu sesuai dengan cita-cita kami (ITS) sebagai kampus yang berdampak,” ujar Bambang dalam keterangan tertulis dikutip pada Sabtu (13/6/2026).

Baca Juga:  ITS Juara KRAI 2026, Wakili Indonesia di ABU Robocon Hong Kong

Sementara itu, Hasanudin menjelaskan pengembangan kapal pembersih sampah tanpa awak dilakukan untuk menjawab tingginya ancaman pencemaran mikroplastik terhadap ekosistem laut, khususnya di kawasan pesisir.

“Sampah kiriman di wilayah pesisir menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan hayati, jika tidak ditangani segera, ekosistem laut kita jadi taruhan,” tutur Hasan.

Ia menjelaskan, kapal tersebut dirancang dengan konsep sederhana agar mudah dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat pesisir. Kapal menggunakan desain lambung ganda untuk meningkatkan stabilitas saat beroperasi di perairan.

“Kami sengaja mendesain sistem yang sederhana namun kuat, karena memang ditargetkan untuk masyarakat pesisir,” paparnya.

Pada bagian depan kapal dipasang sirip pengarah yang berfungsi mengumpulkan sampah menuju keranjang penampung di bagian tengah kapal ketika armada bergerak.

Baca Juga:  ITS Juara KRAI 2026, Wakili Indonesia di ABU Robocon Hong Kong

Sistem kendali kapal memanfaatkan remote control yang dapat dioperasikan hingga jarak 1 kilometer. Menurut Hasan, pendekatan tersebut dipilih untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menekan biaya perawatan.

“Kadang teknologi yang terlalu canggih sering kali mangkrak karena biaya perawatan tinggi dan minimnya tenaga ahli di pesisir,” ungkap Hasan.

Hingga saat ini, tim peneliti FTK ITS telah mengembangkan dua unit kapal generasi terbaru yang telah menjalani uji coba di pesisir Bali. Kedua kapal tersebut memiliki panjang 8 meter sehingga dinilai lebih tangguh menghadapi gelombang laut terbuka.

Dua unit kapal tersebut juga telah dikirim dan diuji coba di kawasan wisata Bali serta Kalimantan melalui kerja sama antara Science Techno Park (STP) Maritim atau Nasdec ITS dengan PT Pertamina (Persero).

Baca Juga:  ITS Juara KRAI 2026, Wakili Indonesia di ABU Robocon Hong Kong

Pada versi terbaru, kapal dilengkapi sejumlah fitur tambahan untuk meningkatkan efektivitas operasional.

“Kami lengkapi dengan alat pencacah sampah, sistem pemantauan kamera CCTV, serta suplai energi ramah lingkungan berbasis panel surya,” jelas Hasan.

Untuk memastikan keberlanjutan program, ITS akan berkolaborasi dengan organisasi komunitas di wilayah pesisir Bali guna menyiapkan masyarakat lokal dalam pengoperasian dan perawatan kapal.

Selain itu, tim peneliti juga menyiapkan dokumen standar operasional prosedur (SOP) dan mekanisme serah terima yang jelas agar inovasi tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam menjaga kebersihan laut.

Ke depan, tim FTK ITS berencana mengembangkan teknologi kapal pembersih sampah tanpa awak dengan integrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendeteksi area dengan kepadatan sampah secara otomatis. (*/Hms/B1)