Bicaraindonesia.id, Surabaya Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) menegaskan pentingnya peran pemuda dalam menghadapi ketidakpastian global melalui diplomasi yang berprinsip, realistis, dan berorientasi pada solusi nyata.

Pesan tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kemenko Polkam, Duta Besar Mohammad K. Koba, saat memberikan keynote speech dalam kegiatan Preliminary Discussion of the D-8 Youth Dialogue bertema “Navigating Uncertainty, Building Resilience” di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (3/6/2026).

Kegiatan ini menjadi forum awal menuju penyelenggaraan D-8 Youth Dialogue pada Oktober 2026. Forum tersebut digelar untuk membahas isu prioritas Keketuaan Indonesia di D-8 periode 2026-2027 sekaligus menjaring gagasan dari kalangan akademisi dan pemuda terkait ketahanan pangan dan ketahanan energi.

Baca Juga:  Kopassus Dukung Budidaya Jagung Banyuwangi untuk Ketahanan Pangan

“Ketidakpastian global saat ini merupakan ujian kepemimpinan. Setiap generasi dibentuk oleh tantangan yang berani mereka hadapi. Diplomasi dimulai ketika pemuda belajar membangun kepercayaan lintas batas dan mengubah gagasan menjadi solusi nyata,” ujar Koba seperti dikutip dari siaran persnya pada Kamis (4/6/2026).

Menurut Koba, generasi muda memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan masyarakat melalui kolaborasi, inovasi, kewirausahaan, riset, serta penguatan jejaring lintas negara.

“Pertanyaannya bukan apakah ketidakpastian akan datang, tetapi apakah kita siap meresponsnya dengan keberanian, kejelasan arah, dan kerja sama,” ungkapnya.

Baca Juga:  Misi Dagang Jatim-Sulut 2026 Bukukan Transaksi Rp1,887 Triliun

Dalam kesempatan tersebut, Koba juga menekankan masa depan kerja sama negara-negara anggota D-8 tidak hanya dibangun melalui forum diplomasi tingkat tinggi, tetapi juga melalui konektivitas antarmasyarakat.

Menurutnya, bentuk kerja sama itu mencakup perdagangan, penelitian, kewirausahaan, pertukaran akademik, hingga penguatan jaringan pemuda.

“D-8 Youth Dialogue memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam menentukan masa depan bersama. Forum ini menjadi wadah bagi mahasiswa, peneliti, inovator, dan profesional muda untuk menghasilkan gagasan dan solusi konkret,” katanya.

Koba menilai tema ketahanan energi dan ketahanan pangan yang diangkat dalam forum tersebut memiliki relevansi langsung terhadap masa depan negara-negara anggota D-8.

Baca Juga:  Kemensos Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya, Bansos Lebih Tepat Sasaran

Karena itu, perguruan tinggi didorong untuk terus menghasilkan solusi yang aplikatif dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Menutup sambutannya, Koba mengajak generasi muda untuk memandang diplomasi dalam arti yang lebih luas. Menurutnya, diplomasi tidak hanya berlangsung di lingkungan kementerian atau forum internasional, tetapi juga melalui upaya membangun pemahaman, kepercayaan, dan kerja sama lintas negara sejak dini.

“Jika Surabaya mampu berdiri teguh pada tahun 1945, maka pemuda D-8 harus siap menghadapi tantangan tahun 2026. Jadikan ketidakpastian sebagai alasan untuk bekerja sama lebih erat,” pungkasnya. (*/Pr/A1)