Bicaraindonesia.id, Surabaya – Industri perfilman Indonesia dinilai memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, namun masih menyimpan tantangan bagi sineas muda yang ingin menembus jaringan bioskop nasional.
Hal itu mengemuka dalam sesi Expert Session bertajuk Film Industry Unlocked: Perspektif Production House & Peluang Karir pada hari pertama 5th Cinematography Film Festival (CFF) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya, Selasa (2/6/2026).
Kegiatan yang digelar di Dian Auditorium Universitas Ciputra tersebut diikuti ratusan mahasiswa dan pegiat film muda. Bertepatan dengan perayaan Dies Natalis FIKOM Universitas Ciputra, festival ini menjadi wadah diskusi mengenai peluang dan tantangan industri kreatif, khususnya sektor perfilman.
Dalam sesi tersebut, produser film Robert Ronny memaparkan besarnya potensi bisnis yang dimiliki industri film Indonesia. Menurutnya, film tidak lagi sekadar menjadi ruang ekspresi dan idealisme, tetapi telah berkembang menjadi sektor ekonomi kreatif yang mampu menghasilkan keuntungan besar.
“Kalau kalian bahkan pakai pesugihan suruh babi ngepet cari Rp250 miliar dalam enam bulan, nggak bakal bisa. Film ‘Agak Laen’ modal Rp18 miliar bisa dapat Rp250 miliar di bioskop dalam enam bulan. Nggak ada bisnis semenggiurkan itu,” ujar Robert yang langsung disambut gelak tawa peserta.
Meski demikian, Robert mengakui masih ada tantangan besar yang dihadapi para pembuat film, terutama terkait distribusi karya ke jaringan bioskop nasional. Persoalan tersebut menjadi salah satu topik yang paling banyak ditanyakan peserta dalam sesi diskusi.
Menurut Robert, pasar film Indonesia saat ini masih didominasi genre horor, komedi, dan drama romantis. Namun, ia menegaskan bahwa kualitas cerita tetap menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan sebuah film.
“Orang Indonesia suka sekali horor. Tapi selama film itu menawarkan sesuatu yang baru, peluangnya tetap ada. Jangan terlalu sibuk memikirkan siapa yang akan menonton. Kalau kalian membuat film yang bagus, penonton akan datang,” katanya.
Ia juga menilai perkembangan teknologi telah membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk mulai berkarya di bidang perfilman. Dengan perangkat yang semakin mudah diakses, hambatan produksi kini jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
“Hari ini dengan smartphone saja kalian sudah bisa bikin film pendek. Kameranya sudah bagus, proses editing juga mudah. Kalian tidak perlu menunggu izin siapa pun untuk mulai membuat film. Ambil kamera, kumpulkan teman-teman yang punya visi sama, lalu buat dan unggah karya kalian,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Salah satunya, Faithniel Eleazar Cornelius Polla, yang mengaku tertarik dengan pembahasan mengenai peluang film independen masuk ke jaringan bioskop.
“Yang paling menampar saat sesi tanya jawab adalah ketika ada yang bertanya apakah film kita bisa masuk XXI itu susah atau tidak. Karena memang kenyataannya susah,” ujarnya.
Sementara itu, mahasiswa FIKOM angkatan 2025, Cahaya Annisa Susanto, menilai media digital kini menjadi alternatif penting bagi sineas muda untuk memperkenalkan karya kepada publik.
“Harus berani menunjukkan karya, tidak hanya lewat festival tetapi juga melalui media sosial,” katanya.
Selain sesi diskusi, hari pertama CFF juga menghadirkan pemutaran film kolaborasi bertajuk Synergy Pieces, hasil kerja sama CFF dengan Studio Cerita Mojokerto. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara pembuat film dan penonton.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, CFF tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya mahasiswa, tetapi juga ruang untuk memahami dinamika industri film nasional.
Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa kemajuan teknologi telah mempermudah proses produksi film, sementara tantangan terbesar saat ini masih berada pada aspek distribusi dan akses menuju industri perfilman yang lebih luas. (*/Dap/A1)

Tinggalkan Balasan