Bicaraindonesia.id, Surabaya Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H/2026, berbagai cara dilakukan pedagang kambing untuk menarik minat pembeli.

Namun, strategi yang dilakukan Nuryono, penjual kambing kurban di kawasan Pradah Kalikendal II Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya (dekat Masjid Nurul Huda), terbilang berbeda dari pedagang lainnya.

Tak hanya menjual kambing kurban dengan harga terjangkau, pria yang akrab disapa Nur juga menyediakan layanan penitipan gratis layaknya “kamar kos” bagi kambing yang sudah dibeli pelanggan. Hewan kurban itu tetap dirawat di kandangnya hingga hari pengiriman.

“Kalau di kandang saya, meskipun jarak satu bulan tetap saya rawat dengan baik. Kirimnya juga gratis ongkir (ongkos kirim),” ujar Nuryono saat ditemui di Surabaya, Senin (25/5/2026).

Baca Juga:  Kemensos Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya, Bansos Lebih Tepat Sasaran

Saat ini, Nur menyiapkan 16 kandang yang terdiri dari delapan kandang single dan delapan kandang koloni untuk merawat kambing milik pelanggan maupun stok dagangannya.

Menurut Nur, penjualan kambing kurban tahun ini justru lebih baik dibanding tahun lalu. Kondisi tersebut dipengaruhi harga kambing dari peternak yang kini lebih stabil dan cenderung turun.

“Kalau dibanding tahun kemarin, saya pribadi lebih enak tahun ini. Karena harga kambing dari sananya menurun, jadi saya bisa jual lebih murah,” katanya.

Ia mengaku kini masih bisa menjual kambing layak kurban mulai Rp2,5 juta. Padahal tahun lalu, hampir tidak ada kambing dengan harga di bawah Rp3 juta.

Baca Juga:  Curi Tiang Rambu di Depan Satpas Colombo, Lansia Ditangkap Polisi

“Saya sekarang masih bisa jual harga Rp2,5 juta sudah sah untuk kurban, umur cukup dan sehat meskipun ukuran kecil,” ujarnya.

Untuk kambing berukuran besar dengan tinggi badan mencapai 75 hingga 80 sentimeter, Nur mematok harga Rp3,7 juta hingga Rp3,8 juta dengan bobot sekitar 55 kilogram.

Selain harga yang lebih kompetitif, Nur juga mengandalkan kualitas perawatan alami. Ia mengaku seluruh kambingnya hanya diberi pakan hijauan murni tanpa campuran pakan pabrik.

“Di sini rumput melimpah karena dekat lahan kosong. Jadi makanannya murni hijauan, enggak ada campuran pabrik,” katanya.

Perawatan kesehatan kambing juga dilakukan rutin setiap 10 hari sekali menggunakan vitamin ternak.

Baca Juga:  Kontingen Reog Surabaya Siap Bertarung di FNRP 2026 Ponorogo

Sementara untuk minuman, Nur memilih menggunakan campuran gula Jawa dibanding tetes tebu maupun garam berlebih.

“Saya kasih gula Jawa supaya makan lebih lahap dan bulunya lebih bagus,” ungkapnya.

Nur pertama kali mendatangkan 30 kambing pada 23 Mei, lalu menambah 10 ekor lagi pada awal Juni.

Dari total 40 kambing yang didatangkan, hampir seluruhnya telah terjual. “Insyaallah sudah habis semua,” tutupnya.

Layanan penitipan gratis dan pengiriman tanpa biaya tambahan di wilayah Surabaya menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli yang belum memiliki tempat untuk merawat hewan kurban sebelum hari penyembelihan tiba. (Dap/An)