Bicara Indonesia
Indonesia Positive Journalism

Kejahatan Dunia Siber Meningkat di Masa Pandemi Covid-19

Bicaraindonesia.idPandemi Covid-19 memicu maraknya kejahatan di dunia maya. Di Jerman, jumlah pelanggaran terus naik, sedangkan kasus yang berhasil diselesaikan mengalami kemandekan.

Jawatan Polisi Kriminal Federal (BKA) Jerman dalam laporan tahunan terbarunya mencatat, total 108.474 kasus kejahatan dunia maya pada tahun 2020. Jumlah kasus kejahatan siber tersebut meningkat hampir 8 persen dari tahun sebelumnya.

Kepala Departemen Kejahatan Dunia Maya BKA, Carsten Meywirth memperkirakan sebagian besar serangan dunia maya bahkan tidak dilaporkan.

Status Jerman sebagai negara dengan kekuatan ekonomi besar di Eropa menjadikannya target utama bagi para pelaku kejahatan siber dari seluruh dunia.

“Pengaruh Jerman di UE dan keanggotaan NATO-nya juga menjadikannya target utama kejahatan dunia maya,” kata Meywirth seperti dilaporkan Deutsche Welle (DW), Rabu (12/5/2021).

Krisis COVID-19 mendorong Meywirth dan timnya untuk makin memperpanjang daftar target kejahatan di internet, dengan portal vaksinasi, platform pendidikan dan server yang digunakan untuk pekerjaan kantor jarak jauh.

Menurut Meywirth, para pelaku kejahatan siber ini juga mengincar sistem rantai pasokan vaksin. “Kegagalan operasi di satu perusahaan saja dapat berdampak besar pada masyarakat secara keseluruhan,” katanya.

Pemerasan Digital

BKA mengungkapkan, hanya sekitar sepertiga dari total kasus yang berhasil diselesaikan. Salah satu area kejahatan yang sangat dinamis adalah pemerasan digital, menggunakan ransomware untuk mengenkripsi data dan file korban yang kemudian dijadikan sebagai bahan ancaman.

Sven Herpig dari Berlin Foundation for New Responsibility (SNV) menilai, seluruh perkembangan tindak kejahatan ini tidak mengejutkan. Kepada DW pakar keamanan TI itu mengatakan, ia bahkan memprediksi jumlah kasus akan terus naik. “Pasalnya para pelaku kejahatan siber itu meraup uang dalam jumlah amat besar,” ujar Herpig.

Sementara itu, pakar dunia maya berpendapat, dalam perbandingan internasional, Jerman sangat siap untuk menangkal serangan yang merusak. Infrastruktur penting di Jerman lebih terlindungi oleh hukum dibanding banyak negara lainnya.

Masing-masing dari 16 negara bagian memiliki otoritas investigasi kriminal dan badan intelijen sendiri, termasuk pakar keamanan TI yang “Tahu persis ke mana harus mencari,” kata pakar dunia maya tersebut.

“Ekonomi bawah tanah” berkembang pesat
Namun Herpig juga mengakui, para penjahat selalu selangkah lebih maju. Ia khawatir upaya untuk meningkatkan pertahanan terhadap serangan siber tidak dipandang sebagai prioritas utama. Tindakan pencegahan untuk mendukung keamanan TI perlu ditingkatkan di banyak sektor. Seperti, bisnis, kantor pemerintah, dan di antara warga negara biasa.

Sasaran yang “diserang penjahat siber adalah lokasi di mana mereka tahu bisa menghasilkan uang.” Segala sesuatu yang telah digitalisasi siap untuk diserang “jika kita tidak membangun keamanan TI ke dalam sistem.”

Para penyelidik mengatakan, sejumlah besar serangan dunia maya di Jerman, pelakunya berasal dari Eropa Timur dan Rusia. Herpig menarik kesimpulan yang sama. Namun, ia menunjuk sejumlah negara di Asia yang juga sedang diamati oleh otoritas nasional dan internasional.

Detail Rekening Bank Dicuri

Para penyelidik BKA mengatakan, spektrum dari hampir 25.000 tersangka yang diidentifikasi meluas dari penjahat yang bertindak sendiri hingga geng terorganisir yang beroperasi secara internasional.

Ekonomi bawah tanah adalah rumah bagi “industri jasa yang lengkap,” yang menawarkan alat untuk melakukan segala jenis kejahatan,” kata Meywirth.

Penjahat dunia maya beroperasi dengan identitas yang dicuri dan detail rekening bank yang mencakup nama, alamat, nomor kartu kredit. Data itu “digunakan oleh penjahat dunia maya untuk perencanaan dan realisasi kejahatan lebih lanjut,” jelas Meywirth.

Penghapusan Emotet

Penyelidik BKA bangga dengan cara mereka yang berhasil menghapus Emotet, virus trojan khusus perbankan yang pertama kali diidentifikasi pada 2014. Upaya global ini melibatkan penyelidik dari delapan negara yakni Jerman, Belanda, Ukraina, Lituania, Prancis, Inggris, Kanada, dan AS.

Ketika kejahatan dunia maya terus berkembang pesat, BKA juga berinvestasi besar-besaran di Departemen Kejahatan Maya, baik dalam hal pendanaan maupun personel.

Meywirth menegaskan bahwa pelatihan adalah prioritas utama jika pemberantas kejahatan dunia maya Jerman ingin “Mampu mengimbangi para penjahat”. (DW/B1)

Kirim Komentar: