Bicara Indonesia
Indonesia Positive Journalism

Keberhasilan Surabaya Mengelola Limbah Plastik Dikenalkan ke Perancis


Bicaraindonesia.id – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk kedua kalinya diundang sebagai pembicara di forum internasional World Materials Forum (WMF) di Kota Nancy, Perancis. Forum yang berlangsung pada tanggal 12 – 14 Juni 2019 tersebut, dihadiri para pakar, praktisi, akademisi, pemerintah, dan sektor swasta dari seluruh dunia. Tujuannya, untuk membahas tentang pengelolaan limbah plastik yang telah menjadi masalah global.





Dalam sesi forum yang
berlangsung pada, Jum’at (14/06), Wali Kota Risma memberikan paparan terkait
inovasi pendaurulangan sampah plastik di Kota Surabaya melalui berbagai program
yang melibatkan masyarakat maupun stakeholder.





Ia menyampaikan beberapa
tahun yang lalu, Surabaya yang berpenduduk 3,3 juta orang memiliki masalah dalam
pengelolaan sampah. Pasalnya, saat itu tempat pembuangan sampah sementara telah
ditutup. Sementara tempat pembuangan sampah yang baru belum siap untuk
dioperasikan. Masalah ini pun kemudian berdampak pada penyebaran sampah ke seluruh
kota dan menyebabkan bau.





Untuk mengatasi hal
itu, Wali Kota Risma kemudian berinisiatif menggandeng masyarakat untuk
bersama-sama menyelesaikan masalah tersebut. Manajemen sampah berbasis
masyarakat yang independen, mulai diperkenalkan. Masyarakat mulai diajarkan
untuk melakukan pemilahan sampah-sampah anorganik di tingkat rumah tangga.





“Untuk mendukung ini,
kami mendirikan bank sampah di tingkat lingkungan yang sekarang telah mencapai
352 unit di seluruh Surabaya,” kata dia.





Sementara untuk sampah organik,
Wali Kota Risma menyebut, kemudian dikelola menjadi kompos, baik di tingkat
rumah tangga maupun di pusat pembuatan kompos yang dibangun Pemkot Surabaya.
Kompos yang telah dihasilkan itu kemudian digunakan untuk menyuburkan taman-taman
kota dan mendukung program pertanian perkotaan.





“Beberapa pusat
pengomposan di Surabaya telah dapat menghasilkan listrik dan mendukung pasokan
listrik di daerah sekitarnya,” ujarnya.





Tak hanya itu, untuk
mengundang lebih banyak partisipasi publik, pihaknya juga mengajak kader dan
fasilitator lingkungan. Mereka bertugas membantu dan mengajarkan warga tentang
pengelolaan sampah. “Saat ini kami memiliki lebih dari 500 fasilitator dan
lebih dari 30 ribu kader lingkungan,” katanya.





Bahkan, pengelolaan
limbah sampah tidak hanya dilakukan di tingkat rumah tangga, namun juga
diterapkan di tingkat sekolah dan universitas, melalui program eco-school,
eco-Islamic boarding school, dan eco-university. Dengan tujuan untuk mengajak
pelajar dan mahasiswa melakukan pengelolaan limbah, penanaman pohon, dan
penghematan energi.





Manfaatkan Limbah Plastik Menjadi Barang yang Lebih Bermanfaat





Untuk mengatasi masalah
sampah plastik yang tidak terdegradasi, Pemkot Surabaya kemudian mengeluarkan
Surat Edaran Walikota yang bertujuan untuk mendorong partisipasi publik dalam pengurangan
limbah plastik melalui daur ulang.





Bahkan, pihaknya juga aktif
melakukan kampanye-kampanye tentang penggunaan sedotan logam dengan mengganti sedotan
plastik. Imbauan agar masyarakat menggunakan tumbler dan kotak makan siang dari
kertas pun juga dilakukan sebagai upaya mengurangi limbah plastik tersebut.





“Secara rutin, kami mengajak
ribuan pelajar, pejabat pemerintah, TNI dan Polri untuk bersama-sama membersihkan
pantai kami dari sampah, hal ini menunjukkan partisipasi publik yang begitu tinggi
di Surabaya,” kata Wali Kota Risma.





Hasilnya, lambat laun warga
Surabaya pun mulai sadar akan pentingnya menerapkan 3R (Reuse, Reduce Recycle)
dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mulai menggunakan kembali sampah yang masih
dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lain. Mengurangi segala
sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan mengolah kembali (daur ulang) sampah
menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat terutama limbah plastik.





Kini, di Surabaya botol
plastik dan kemasan banyak diubah menjadi barang yang lebih berharga lain untuk
digunakan kegiatan sehari-hari, ataupun dijual sebagai produk daur ulang. “Warga
menggunakan limbah botol plastik untuk menghias lingkungan mereka dan bahkan
membuat pohon Natal,” ujarnya.





Bahkan, untuk mendukung kampanye gerakan pengurangan limbah plastik, Pemkot Surabaya secara rutin menggadakan kompetisi di tingkat pelajar sekolah. Kompetisi itu berupa parade busana yang terbuat dari bahan daur ulang limbah plastik.





“Mereka (para pelajar) dengan bangga menunjukkan busana dari hasil daur ulang limbah plastik dalam sebuah parade,” terangnya.





Proses daur ulang limbah sandal karet dan ban bekas menjadi jogging track | Foto: Istimewa




Selain melakukan daur
ulang limbah plastik, Pemkot Surabaya juga melakukan daur ulang dari banyak
bahan limbah lain. Seperti limbah ban kendaraan digunakan sebagai tempat sampah
atau kursi, kaleng cat bekas diubah menjadi pot bunga dan sandal karet digunakan
sebagai jalur jogging track.





“Sekarang kami memiliki
jogging track sepanjang lebih dari 1 km yang terbuat dari limbah sandal jepit,”
ungkap Wali Kota Risma.





Mengurangi
Sampah Botol Plastik Melalui Moda Transportasi Suroboyo Bus





Untuk mengelola limbah plastik agar lebih baik dan meningkatkan kesadaran masyarakat, Pemkot Surabaya kemudian meluncurkan Suroboyo Bus, Sabtu, (7/6/2018). Moda transportasi Suroboyo Bus ini, disebut-sebut menjadi yang pertama di Indonesia, bahkan di dunia. Pasalnya, sebagai pengganti uang tunai, para penumpang hanya membayar ongkos bus tersebut menggunakan sampah botol plastik.





Saat ini, terdapat 18 unit Suroboyo Bus dan dua unit Bus Double Deck (bus tingkat) dengan mekanisme pembayaran penumpang menggunakan sampah botol plastik. Sejak Suroboyo Bus itu dioperasikan, Pemkot Surabaya berhasil mengumpulkan 39 ton sampah botol plastik. Alhasil, sampah botol plastik yang terkumpul itu kemudian dilakukan pelelangan dan berhasil terjual Rp 150 juta. “Kami melakukan tender untuk mendapatkan perusahaan yang memenuhi syarat untuk melakukan proses ini,” ujar Wali Kota Risma.





Moda transportasi Suroboyo Bus | Foto: Istimewa




Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini mengungkapkan, saat ini terdapat teknologi baru yang mulai diperkenalkan untuk mengelola limbah plastik sebagai bahan pembuat aspal. Untuk itu, Pemkot Surabaya kemudian menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI untuk proyek tersebut.





“Menurut penelitian, itu diperkirakan untuk setiap 1 km jalan bisa menggunakan 2,5 hingga 5 ton sampah plastik,” ungkapnya.





Kendati demikian, meskipun pihaknya melihat proyek ini sangat menjanjikan dalam upaya mendaur ulang sampah plastik, Wali Kota Risma mengaku pihaknya masih mengalami kendala dengan tingginya biaya mesin dan peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan proyek tersebut.





Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Melalui Hasil Daur Ulang Limbah Rumah Tangga





Di sisi lain, untuk
meningkatkan daya beli masyarakat, pihaknya kemudian berinisiatif menggabungkan
program Pahlawan Ekonomi (PE) dengan manajemen lingkungan. Melalui program
tersebut, Pemkot Surabaya memberikan pelatihan kepada ibu rumah tangga dari keluarga
miskin. Masyarakat diajarkan memulai bisnis dengan menggunakan bahan daur
ulang, seperti kerajinan tangan dan aksesoris.





Hasilnya, Wali Kota
Risma mengaku, saat ini daya beli masyarakat Surabaya di tingkat rendah
berkurang dari 34 persen menjadi 5 persen. Sementara di tingkat tinggi, tumbuh
dari 13 persen menjadi 47 persen. “Program ini juga membantu mengurangi tingkat
kemiskinan di Surabaya,” jelasnya.





Sebagai hasil dari
semua inisiatif ini, Kota Surabaya dapat menikmati penurunan volume sampah ke Tempat
Pembuangan Akhir (TPA), penurunan tingkat penyakit, suhu lebih rendah 2 derajat
celcius, pengurangan yang signifikan dari banjir, dan lingkungan yang lebih
bersih. Terlebih, ruang terbuka hijau di Surabaya kini juga lebih luas dan
nyaman digunakan masyarakat untuk melakukan banyak kegiatan sosial.





Kendati demikian, Wali
Kota Risma menyebut, ada hal lain yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi semua.
Sebab, akan ada lebih banyak plastik di lautan daripada ikan pada tahun 2050 nanti,
jika tidak ada upaya yang cukup dilakukan mulai sekarang.





“Namun kami percaya
bahwa kemitraan yang kuat antara pemerintah, masyarakat dan pemangku
kepentingan lain termasuk perusahaan swasta, akan membuat semua solusi bekerja
lebih baik dan lebih cepat,” pungkasnya.


Kirim Komentar: